Tradisi Manene, Cara Warga Toraja Menghormati Para Leluhur

Ritual tersebut dilakukan untuk membersihkan jasad para leluhur yang sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu hingga ratusan tahun silam.

Editor: Muhammad Irham
int
Ritual Manene di Toraja Utara 

TRIBUN-TIMUR.COM - Warga Toraja memiliki sebuah tradisi unik yaitu manene. Tradisi ini digelar setiap tahun untuk menghormati para leluhur.

Ritual tersebut dilakukan untuk membersihkan jasad para leluhur yang sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu hingga ratusan tahun silam.

Ritual ini dimulai dengan pengambilan jenazah yang telah dimakamkan di tebing batu.

Jenazah para leluhur berubah menjadi mumi karena diberi pengawet yang membuat jenazah tersebut tahan hingga ratusan tahun lamanya.

Di sejumlah dinding tebing, banyak lubang berbagai ukuran dengan bentuk persegi. Tiap lubang tertutup oleh pintu kayu.

Para pemanjat lalu membuka pintu dan mengeluarkan peti mati berisi jenazah berusia puluhan atau ratusan tahun.

Biasanya dalam ritual manene, keluarga datang menyaksikan. Para wisatawan dan warga sekitar ikut menyaksikan. Inti upacara itu mengganti seluruh pakaian jenazah.

Di Londa, salah satu kuburan warga Toraja Utara yang telah berusia ratusan tahun, ada puluhan jenazah yang sering dibersihkan.

Ritual ini mempunyai makna yang lebih, yakni mencerminkan betapa pentingnya hubungan antar anggota keluarga bagi masyarakat Toraja.

Pakaian yang dikenakan oleh jasad para leluhur itu diganti dengan kain atau pakaian yang baru.

Sebelum ma’nene digelar, seorang tetua adat membacakan doa untuk meminta berkah dari leluhur agar musim panen berjalan baik. Setelah itu, anggota keluarga membersihkan jenazah dengan kuas, menjemurnya sebentar, lalu mengganti pakaian jenazahnya.

Biasanya ritual ini dilakukan serempak satu keluarga atau bahkan satu desa, sehingga acaranya berlangsung cukup panjang.

Setelah pakaian baru terpasang, jenazah dibungkus dan dimasukan kembali ke patane, rumah khusus jenazah di sekitar Londa.

Rangkaian prosesi ma’nene ditutup dengan anggota keluarga berkumpul di rumah adat tongkonan untuk beribadah bersama.

Ritual ini biasa dilakukan setelah masa panen, kira-kira akhir Agustus. Pertimbangannya, anggota keluarga yang merantau umumnya pulang kampung, sehingga semua keluarga dapat hadir untuk melakukan prosesi ma’nene.

“Prosesi unik dan menarik. Hanya ada di Toraja Utara,” kata Micha Rainer Pali, fotografer kelahiran Rantepao, Tanah Toraja, yang beberapa kali mengabadikan upacara ma’nene.

Menurut Micha, orang-orang di Toraja Selatan memiliki ritual serupa untuk menghormati jenazah leluhurnya. “Tetapi hanya tau-tau atau patung menyerupai leluhur yang dibersihkan dan pakaiannya diganti,” lanjut Micha.

Senada dengan Micha, Sima Batara, seorang pemandu wisata di Tanah Toraja, mengatakan tak semua penduduk Toraja menggelar ma’nene.

“Sudah sangat sedikit yang melakukannya. Tapi upacara ini masih digelar di wilayah utara. Setidaknya tiga tahun sekali,” kata Sima.

Sima menambahkan, manene merupakan salah satu bagian dari upacara kematian khas Toraja.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved