Kuliner

Buroncong, Kue Jadul yang Tetap Digemari Warga Makassar

Terbuat dari campuran tepung terigu, santan, parutan kelapa muda, gula pasir dan garam. Dibakar dengan cetakan khusus di atas tungku kayu.

Editor: Mansur Amirullah
int
Buroncong 

TRIBUNTIMUR.COM - Di musim hujan seperti saat ini, biasanya seseorang cenderung akan mencari kuliner untuk mengisi perut.

Salah satu yang bisa jadi pilihan adalah kue tradisional khas Makassar, buroncong.

Buroncong -juga disebut baroncong- serupa kue pancong di tanah Jawa. Terbuat dari campuran tepung terigu, santan, parutan kelapa muda, gula pasir dan garam. Dibakar dengan cetakan khusus di atas tungku kayu.

Bentuk buroncong cukup unik, mirip kue pukis. Menyerupai setengah lingkaran tapi agak lonjong. Penganan ini bercita rasa manis dengan sensasi renyah, yang berasal dari kelapa parut.

Buroncong sudah menjadi pilihan makanan ringan di Makassar sejak masa lampau.

Biasanya kue ini mudah ditemukan dijajakan di pinggir-pinggir jalan dengan gerobak, terutama pada pagi atau petang hari. Sebiji berharga senilai Rp 1.000 hingga Rp 1.500.

Belakangan ini buroncong juga terkena sentuhan inovasi. Pedangang menawarkan berbagai rasa alternatif, dengan menambahkan susu atau keju sebagai pengganti gula pasir.

Ada humor di masyarakat yang menyebut buroncong sebagai kue terberat di dunia.

Kok bisa? Itu karena kue ini diangkat dari cetakan dengan alat khusus yang menyerupai gancu. Ya, gancu yang biasanya dipakai buruh kasar mengangkat barang-barang berat.

Buroncong dibuat dengan lebih dulu mencampurkan berbagai bahan menjadi adonan kental. Mula-mula terigu, kuning telur, air.

Lalu gula dan garam serta parutan kelapa. Adonan tersebut yang dituangkan pada cetakan khusus dengan beberapa lubang setengah lingkaran.

Adonan dibiarkan matang hingga agak mengembang dan sedikit gosong, sebelum ditaburi gula pasir. Paling nikmat jika disajikan selagi hangat.

Sejauh ini, sekalipun kue buroncong sudah ada sejak puluhan atau ratusan tahun lampau, belum ada literatur yang menjelaskan kapan kue tradisional khas Bugis-Makassar ini ditemukan. Termasuk kaitannya dengan kue pancong.

Tapi, saat berkunjung ke Makassar, tak ada salahnya jika Anda mencoba kudapan gurih khas Bugis-Makassar itu. Terutama, sebagai bekal sarapan untuk menambah energi menjelajahi Kota Makassar atau jadi camilan santai di waktu pagi dan sore hari.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved